Pendidikan Anak, Dimulai dari Mana?

Jika ditanyakan kepada Anda, mendidik anak dimulai sejak kapan? Apa jawaban Anda? Sebagian menjawab, ketika anak sudah usia sekolah. Yang lain menjawab, sejak dini. Ada yang menjawab, sejak bayi lahir. Ada pula yang menjawab, sejak dalam kandungan.

Nah, saya memilih jawaban paling awal, yaitu sejak seorang calon ayah memilihkan calon ibu bagi calon anaknya, dan seorang calon ibu memilihkan calon ayah bagi calon anaknya. Artinya, pendidikan anak sudah dimulai sejak anak itu belum ada dan belum “diproses”.

Sebagaimana kita ketahui, anak tidak bisa memilih siapa ayah dan ibunya. Anak tidak bisa memilih kakek dan neneknya. Namun seorang lelaki bisa memilih siapa calon istrinya, dan seorang perempuan bisa memilih siapa calon suaminya. 

Dari sinilah kita mulai memberikan penghormatan dan pemuliaan kepada (calon) anak-anak, bahwa mereka terlahir dari rahim pilihan.

Memilihkan Calon Ibu dan Calon Ayah Bagi Anak

Proses pendidikan anak sesungguhnya sudah dimulai sejak sebelum janin terbentuk. Ketika seorang lelaki dan perempuan memilih jodoh dan memproses pernikahan dengan cara yang benar dan baik, maka itu merupakan modal awal pendidikan terhadap anak.

Mereka membentuk kehidupan rumah tangga dengan motivasi ibadah untuk mewujudkan kondisi rumah tangga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Dengan demikian orang tua telah memiliki pondasi niat yang benar, serta memiliki visi yang sama untuk meraih surgaNya.

Memilih istri atau memilih suami, bukanlah peristiwa iseng datau sekedar memenuhi selera pribadi. Sejak awal setiap lelaki dan perempuan muslim harus menyadari, bahwa mereka tengah menyiapkan generasi penerus. Untuk itulah, memilih pasangan hidup harus didasarkan kepada tuntunan Allah dan RasulNya.

Nabi saw bersabda,

“Perempuan dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunan, kecantikan, dan agamanya; maka pilihlah perempuan yang taat beragama, niscaya engkau beruntung” (HR. Bukhari no. 5090, Muslim no. 1466).

Mengomentari hadits di atas, Syaikh Al-‘Azhim Abad menyatakan, “Makna ‘fazhfar bidzatid din’ (pilihlah yang mempunyai agama) bahwa yang pantas bagi orang yang mempunyai agama dan adab yang baik ialah agar agama menjadi pertimbangan dalam segala sesuatu, terutama berkenaan dengan pendamping hidup. Oleh karenanya, Nabi saw memerintahkan supaya mencari perempuan dengan kebaikan agama yang merupakan puncak pencarian”. (1)

Sedangkan Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Makna hadits ini adalah, keempat hal (harta, kedudukan, kekayaan dan agama) yang dianjurkan menikahi perempuan karenanya, yang demikian itu adalah sebaik-baik hal yang ada; bukannya itu terjadi secara keseluruhan. Bahkan menurut lahirnya, diperbolehkan menikah dengan tujuan tiap-tiap satu dari hal itu, namun tujuan agama adalah lebih utama”.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr secara marfu’, ia mengatakan, “Jangan menikahi perempuan karena kecantikannya, karena bisa jadi kecantikannya itu akan memburukkannya; dan jangan menikahi perempuan karena hartanya, bisa jadi hartanya membuatnya melampui batas. Tetapi, nikahilah perempuan karena kebaikan  agamanya” (HR. Ibnu Majah no. 1859).

Orang-orang salih zaman dulu telah memberikan contoh kehati-hatian dalam memilih jodoh. Mereka benar-benar memperhatikan kriteria kebaikan agama, bukan sekedar kriteria lahiriah semata.

Aksam bin Shaifi pernah menasihati kaumnya, “Wahai Bani Tamim, janganlah sekali-kali kalian tergiur dan terpesona kecantikan perempuan, sehingga membuat kalian lupa diri dan tidak menyelidiki siapa, dari mana asalnya, dan sebagainya. Karena perkawinan seperti itu mudah meruntuhkan kehormatan”. (2)

Demikian pula, Abul Aswan Ad-Duali berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, aku telah berbuat baik kepadamu semenjak kalian kecil hingga dewasa, bahkan semenjak kalian belum lahir”.

“Bagaimana cara ayah berbuat baik kepada kami sebelum kami lahir?” tanya sang anak.

“Ayah telah memilihkan untuk kalian seorang perempuan terbaik di antara sekian banyak perempuan, seorang ibu yang pengasih dan pendidik yang baik untuk anak-anaknya”, jawab Abul Aswan. (3)

Kisah dialog di atas menggambarkan pentingnya memilih pasangan hidup berdasarkan kriteria kebaikan agama. Salah satu kriteria itu adalah kemampuan mendidik anak-anak dan menyayangi keluarga dengan baik. Sebab, kesusahan apa yang lebih besar bagi sebuah keluarga, dibandingkan dengan nakal dan rusaknya moral anak-anak karena tidak dididik dengan kasih sayang?

Dari Orangtua Salih Salihah, Lahir Anak Salih Salihah

Imam As-Suyuthi adalah seorang ulama yang dijuluki sebagai “ibnul kutub” (si anak buku), karena ia lahir di antara kitab-kitab. Ayah dari Imam As-Suyuthi bernama Abu Bakr Muhammad bin Abi Bakr. Beliau adalah ulama ahli fikih, nahwu, sharaf, dan bayan, yang banyak menulis kitab. Abu Bakr adalah seorang ulama yang faqih akan berbagai cabang ilmu agama, serta banyak mengkaji kitab.

Pada suatu hari, Abu Bakr meminta tolong kepada istrinya yang sedang hamil untuk mengambilkan sebuah buku, di antara sangat banyak buku yang ada di rumahnya. Sesampai di tempat buku tersebut, bayi terlahir. Inilah kisah kelahiran Jalaluddin As-Suyuthi yang lebih dikenal dengan sebutan Imam As-Suyuthi. Ia lahir di antara kitab-kitab yang dikaji dan ditulis ayahnya. (4)

Dari seorang alim dan salih, lahirlah anak yang alim dan salih pula. Maka jika ingin mendidik anak dengan baik dan ingin memiliki anak yang baik, hendaknya memilih calon pasangan hidup yang baik. Dari sinilah pendidikan anak dimulai.

sumber : link

1 Comment

  • Abi_ZuTsaKayHayNub Agustus 12, 2022 3:31 am

    Maa syaa Allah semoga bermanfaat dan berkah buat kita semuanya Ustadzyl habiib, aamiin.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *